Pos Blog Pertama

Ini pertama kalinya memulai menulis. Belajar kembali menulis apapun yang bisa ditulis. Blog ini nantinya akan benar-benar menjadi tempat mencurahkan segala pikiran, perasaan, dan harapan. Mungkin pula, hanya akan menulis kegaduhan, kegelisahan, dan kegalauan seorang perempuan. Atau mungkin menulis aktivitas keseharian, kegiataan yang dilakukan atau kejadian yang dialami. Ya, intinya aku benar-benar ingin mencoba belajar menulis yang bermakna dan bermanfaat. Semoga istiqomah ya Puj 😊 mari awali 2019 dengan penuh kebaikan, kebermaknaan dan kebermanfaatan.

pos

Kilas Balik 2018

Besok sudah 2019. Sebenarnya sama aja, sebuah harapan untuk setiap hari berikutnya menjadi pribadi baik. Bukankah begitu? Entah kenapa, tetiba pengen aja cerita kilas balik 2018 di akun ini. Kali aja nanti, jika diberi umur tahun 2045, tepat 100 tahun kemerdekaan RI. Baca postingan ini kembali, kan pasti seru😂jujur kadang pas diingetin sama fb kenangan 1 tahun sebelumnya. Itu mikir, kok bisa ya aku nulis begituan. Hehehe. Oke, balik ke niat mau cerita kilas balik 2018.

Alhamdulillah, 2018 banyak yang dipelajari, dirasakan dan dikuatkan. Januari 2018, membawa pulang segala harapan di Surabaya. Pulang sebenar-benarnya pulang. Sebuah surat pengunduran diri untuk kampus yg baru 1 tahun telah membuatku jatuh cinta dengan kota Surabaya. Jujur, keinginan lepas lulus kuliah pengen stay di Surabaya. Syukur-syukur kalau dapat jodoh orang Surabaya. But, gagal. Allah tarik mundur kembali ke kampung halaman Kalimantan. Membersamai Emak tersayang untuk membesarkan Si kembar. Keputusan berat memang. Menangis? Tentu. Di depan perpustakaan PPs aku terisak
sendirian. Aku sepertinya salah doa, batinku berucap, 2015 aku berdoa, doa yang ku tempel di dinding kamar “Ya Allah, pengen kuliah S2 di tahun 2016”. Dan benar, Allah kabulkan aku kuliah di tahun 2016. Tapi, aku tak berdoa diluluskan kuliah S2. Ini kekuatan doa yang akhirnya ku pelajari yaitu berdoa jangan ‘nanggung’. Minta apa saja sama Allah, pasti Allah kabulkan. Akhirnya januari 2018 aku benar-benar membawa balik semua jiwa raga dan motor tercinta ke Kalimantan.

Balik dari Surabaya. Bekerja jadi guru RA kembali. MasyaAllah luar biasa. Menjadi guru TK itu membahagiakan sekali. Bertemu anak-anak yg lugu, polos dan manja. Beberapa kali, aku dikagetkan sebab mendapat ciuman di pipi dari anak-anak. Tak tertebak, pernah seorang anak meminta telingaku, katanya ada yang ingin disampaikan dengan berbisik. Ku arahkan telingaku, dan sebuah ciuman mendarat di pipi sembari dia berkata “Aku sayang Bunda”. Hal lain, yang luar biasa adalah pertemuan setiap bulan dengan seluruh guru RA, saling sharing tentang anak, proses belajar dan makan bersama. Soal makan, aku pasti duluan. Hehehe. Sebuah nasehat dari Bunda senior, “Guru RA itu bertabur pahala, kau tau Alfatehah yg kau ajarkan ke anak-anak digunakannya sholat seumur hidup. Itu pahala tak ternilai dibanding gajih yg tak seberapa bukan?”. Aku benar-benar merasakan kebahagiaan. Hampir 100hari berkerja menjadi guru RA. Akhirnya dengan terpaksa berhenti dikarenakan sebuah beasiswa ppg didapatkan. Alhamdulillah.

Februari 2018. Jadwal lapor diri beasiswa keluar. Mempersiapkan diri untuk segera ke kota Banjarmasin. Dan jeng jeng jeng. Emak tak mengijinkan, si kembar masih umur beberapa bulan. Bagaimana bisa kau tinggalkan Emak dalam kondisi sakit-sakitan. Begitu kata Emak, dan aku mulai bimbang. Babe, meyakinkan bahwa akan baik-baik. Pergilah, untuk mengejar gelar “Gr”. Aku benar-benar galau tak karuan. Akhirnya istikharoh menjadi pilihan. Oya teman-teman, sholat istikharoh bukan hanya untuk memilih pendamping kehidupan kita tapi juga untuk memilih jalan hidup. Gelar sejadah, istikharoh. Dan hati mantab, melepaskan beasiswa ppg. Selesai masalah? Tidak. Aku diminta bayar denda disebabkan kemunduran dari beasiswa. Sekian puluh juta. Itu rasanya bikin lemes. Setelah, perdebatan panjang, loby sana sini dan kasih alasan sejujur-jujurnya. Dan akhirnya sebab karuniaNya gak jadi bayar denda, hanya saja namaku di blacklist dari beasiswa itu. Alhamdulillah.

Gagal berangkat program ppg prajabatan. Mulai bingung sebentar, sudah berhenti kerja di RA. Aku kerja sambilan apa ya? Buat jalan jemput rejeki. Mulai jualan online kembali, mulai eksperimen jualan cemilan dan makanan, sembari berdoa semoga ada jalan buat bisa mengajar. Jujur, terasa hambar tanpa berhadapan dengan anak atau siswa. Awal Maret 2018, sebuah telpon datang dari kepala sekolah SMP yang baru dikenal ditahun 2017, meminta tolong buat menggantikan guru yg sedang hamil. Dengan senang hati aku terima. Alhamdulillah. Rencana Allah memang indah. Akhirnya hingga sekarang masih diamanahkan untuk mengajar di SMP ini. Ingin cerita tentang suka duka mengajar di SMP ini. Ah, pasti sangat panjang. Cerita mengharu biru dunia mengajar nanti akan dicerita di postingan lainnya. Intinya benar-benar bersyukur dengan jalanNya. Biarpun kadang mewek tak karuan. Tapi akhirnya benar-benar dapat kesadaran tentang kehidupan.

Oya, tahun 2018. Tahun dimana belajar kesetiaan dan berprasangka baik dengan orang. Seorang lelaki datang melamar, namun Emak katakan tunggu si kembar umur setahun baru boleh nikah kalian. Itu berarti Agustus 2018. Lelaki itu terdiam, sembari berkata “Iya, mungkin momennya harus kita selesaikan bakti kita pada orang tua” dikatakan Januari 2018. Atas dasar kesepakatan kita tak komunikasi kecuali sekedar bertanya kabar, itupun tak sebulan sekali tapi hampir 3 bulan sekali. Tanpa kabar satu sama lain. Hingga Juli 2018. Bertanyalah kepada dia tentang kepastian, ternyata jawabannya “Aku tak tau kapan dapat melamar, sebab aku harus menyelesaikan amanah orang tua”. Aku terdiam. Dan itu tanda berakhirnya kesepakatan. Alhamdulillah. November 2018, aku mendapat kabar dari dia bahwa dia akan melangsungkan pernikahan dengan perempuan lain di Desember 2018. Dan benarlah, pertengahan bulan kemaren dia menikah. Barakallah. Dia sesosok yang baik, tapi kata Allah bukan yang baik untukku. Begitu yang aku percaya. Ya, percaya bahwa perkara jodoh sudah Allah tetapkan. Tinggal kita yang mengusahakan dan mempersiapkan.

2018 pun juga mengajarkan tentang kesalahan kata yang kadang membuat salah makna, tentang salah sikap yang membuat bertikai, tentang salah menempatkan diri hingga dianggap tak tau diri. Semoga yang salah-salah benar-benar jadi pembelajaran dan tak terulang. Dan semoga besok, saat usia masih diijinkan dapat menjadi hamba yang berusaha taat pada Allah, menjadi anak yang lebih berbakti pada orang tua, menjadi teman yang lebih baik, menjadi perempuan muslimah yang menjaga diri, hati dan pikiran. Bismillah … mari kita coba berbenah setiap hari ya 😊. Keep istiqomah

Palangka Raya, 31 Desember 2018

Empat Kata
4M – Mengakhiri, Memaknai, Memulai dan Memproses menjadi baik –